PALU – Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin, SE., M.A.P memimpin Rembuk Stunting yang digelar di Auditorium Kantor Wali Kota Palu, Selasa (10/03/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai unsur yang terlibat dalam upaya percepatan penurunan stunting di Kota Palu.
Hadir dalam pertemuan tersebut Guru Besar Bidang Kepakaran Biokimia Gizi Universitas Tadulako, Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), perwakilan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palu, perwakilan BKKBN Kota Palu, para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kepala puskesmas, serta sejumlah pihak terkait lainnya.
Dalam arahannya, Wakil Wali Kota Imelda Liliana Muhidin menegaskan bahwa pelaksanaan rembuk stunting merupakan bentuk keseriusan Pemerintah Kota Palu dalam menekan angka stunting melalui langkah-langkah yang terukur dan kolaboratif.
“Ini adalah kali kedua saya memimpin rapat rembuk stunting hari ini sebagai bagian dari upaya serius Pemerintah Kota Palu dalam menekan angka stunting,” ujar wakil wali kota.
Menurut wakil wali kota, forum tersebut menjadi momentum penting untuk mengevaluasi capaian penanganan stunting pada tahun sebelumnya sekaligus memperkuat strategi intervensi pada tahun berjalan.
Wakil wali kota menjelaskan bahwa delapan kecamatan di Kota Palu menjadi fokus utama dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting.
Oleh karena itu, para camat bersama unsur terkait diminta untuk memaparkan perkembangan program penanganan stunting di wilayah masing-masing, termasuk berbagai kendala yang ditemui di lapangan.
Lebih lanjut, wakil wali kota menekankan bahwa pendekatan pencegahan stunting perlu lebih diarahkan pada masa kehamilan, sehingga perhatian terhadap ibu hamil dan calon ibu hamil harus semakin diperkuat.
“Fokus penanganan stunting harus kita ubah, yaitu lebih menekankan pada masa kehamilan. Artinya perhatian kita harus lebih besar kepada ibu hamil dan calon ibu hamil,” jelas wakil wali kota.
Wakil Wali Kota juga berharap melalui rembuk stunting ini dapat terbangun komitmen yang lebih kuat dari seluruh pemangku kepentingan dalam menurunkan angka stunting di Kota Palu.
“Tujuan rembuk stunting ini adalah membangun komitmen bersama seluruh stakeholder dalam pencegahan dan penurunan stunting. Mulai dari kader posyandu, puskesmas, kelurahan, hingga PKK semuanya memiliki peran penting,” kata wakil wali kota.
Selain itu, Wakil Wali Kota Imelda juga menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pihak swasta, agar upaya percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Wakil wali kota juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, Kota Palu berhasil meraih penghargaan sebagai daerah dengan penurunan angka stunting terbaik.
Atas capaian tersebut, Kota Palu memperoleh dana insentif fiskal dari pemerintah pusat sebesar Rp6,1 miliar.
Menurutnya, prestasi tersebut harus menjadi motivasi bagi seluruh pihak untuk terus meningkatkan kinerja dan memperkuat sinergi dalam upaya menurunkan angka stunting di Kota Palu pada tahun 2026.
“Kita bekerja bukan hanya karena kewajiban, tetapi karena kepedulian kita terhadap masa depan anak-anak di Kota Palu. Mari kita bersama-sama memberikan yang terbaik bagi generasi penerus kita,” pungkas wakil wali kota. (*)











