PALU – Niat mengejar penerbangan subuh dengan tenang justru berbuah rasa kecewa bagi Andi Limbunan dan sang istri.
Menjadi penumpang penerbangan Batik Air rute Jakarta–Palu pada Kamis (30/7/2026) dini hari, mereka harus berhadapan dengan manajemen antrean check-in di Bandara Soekarno-Hatta yang dinilai serampangan.
Datang lebih awal sekitar pukul 00.15 WIB—dua jam sebelum jadwal terbang pukul 02.20 WIB, tak lantas menjamin proses berjalan mulus.
Pengurangan konter operasional serta kebijakan petugas melompati antrean demi mendahulukan penumpang rute lain membuat antrean penumpang wilayah Indonesia Timur tertahan lama.
Tak hanya Andi, sejumlah penumpang lain termasuk rombongan yang membawa anak kecil turut merasakan dampaknya.
“Kalau memang itu kebijakan perusahaan, apakah melompati antrean penumpang yang sudah menunggu lebih dulu juga termasuk kebijakan? Kami hanya ingin diperlakukan adil,” tutur Andi mendesak pertanggungjawaban moral dari pengelola layanan.
Imbas dari kekacauan antrean tersebut dirasakan langsung saat Andi baru dilayani pada pukul 01.55 WIB. Dengan sisa waktu yang sangat mepet menuju boarding, ia tak memiliki pilihan selain merogoh kocek Rp273.000 untuk membayar kelebihan bagasi 3 kg, padahal tas kabinnya masih memadai untuk menampung barang tersebut.
Sorotan ini menjadi catatan penting bagi manajemen penerbangan untuk membenahi penataan alur check-in pada prime time penerbangan dini hari.
Upaya konfirmasi awak media kepada pihak Lion Air (Batik Air) Palu, Uli, via pesan singkat WhatsApp enggan memberikan penjelasan lebih detail. Ia mengarahkan agar pihak media berkoordinasi langsung dengan pimpinan cabang atau manajemen pusat.
“Di sini saya hanya staff, bisa langsung hubungi pimpinan saya mas. Atau hubungi Humas Lion Group,” ujar Uli.
Menindaklanjutinya, awak media menghubungi Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic of Lion Air Group (Humas). Namun hingga berita ini ditayangkan, Danang belum memberikan jawaban atau penjelasan terkait kejadian ini. (*)











