HeadlineSulteng

Dampelas, Tinombo hingga Ampana Masuk Zona Merah Karhutla di Sulteng

×

Dampelas, Tinombo hingga Ampana Masuk Zona Merah Karhutla di Sulteng

Sebarkan artikel ini
KARHUTLA - Luas kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Tengah telah menembus 3.138 hektare dengan total terdeteksi 1.300 titik hotspot. FOTO: IST

PALU – Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah menempatkan wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dampelas, Tinombo dan KPH Sipi 47 di Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, dalam status rawan tinggi atau zona merah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulteng. Status ini menyusul maraknya titik api di wilayah tersebut akibat dampak musim kemarau panjang.

“Yang mempunyai potensi cukup tinggi saat ini ada di Dampelas Tinombo, Sipi 47 Ampana, Sintuwu Maroso Poso, KPH TP Asa Arowa Morowali Utara, dan KPH Balantak. KPH kami minta untuk siaga terhadap bahaya karhutla karena saat ini potensi cukup tinggi,” tegas Susanto Wibowo, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulteng, Selasa (8/9/2026).

​Sebagai langkah penanganan cepat, Dinas Kehutanan menerjunkan tim gabungan yang terdiri dari Polisi Kehutanan, penyuluh, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) secara masif ke area Dampelas Tinombo dan Ampana.

Selain kedua area kritis tersebut, pengawasan ketat juga diarahkan ke beberapa wilayah potensi rawan lainnya seperti KPH Sintuwu Maroso di Poso, KPH TP Asa Arowa di Morowali Utara, serta KPH Balantak di Banggai.

“Teman-teman Polhut dan penyuluh bersama Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan serta Masyarakat Peduli Api sedang melaksanakan pemadaman kebakaran di wilayah KPH Dampelas Tinombo, begitu juga yang ada di KPH Sipi 47 di daerah Ampana,” ujar Susanto.

​Berdasarkan data aplikasi Sipongi milik Kementerian Kehutanan akumulasi Januari hingga Agustus, luas kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Tengah telah menembus 3.138 hektare dengan total terdeteksi 1.300 titik hotspot.

Angka ini menempatkan Sulawesi Tengah berada di peringkat ke-13 secara nasional dalam kerawanan karhutla, di mana sebagian besar area terbakarnya mencakup lahan perkebunan masyarakat dan kawasan hutan pinus.

“Hotspot kita itu ada 1.300 titik api berdasarkan data Sipongi,” bebernya.

​Selain faktor kemarau panjang, pemicu utama melonjaknya titik api di area-area tersebut didominasi oleh kelalaian serta aktivitas manusia. Kebiasaan membuka kebun dengan cara membakar di tengah cuaca terik serta tindakan membuang puntung rokok sembarangan menjadi penyebab meluasnya kobaran api ke kawasan perkebunan dan perbatasan hutan.

“Pemicu itu yang pertama musim kemarau yang cukup panjang, dan juga pembakaran lahan. Masyarakat perlu disosialisasi kalau membuka kebun dalam musim kemarau ini dihindari adanya pembakaran,” ucap Kadishut.

​Guna menanggulangi kondisi ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menyiapkan alokasi anggaran darurat yang disalurkan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) selaku ketua satgas penanganan bencana.

Selain itu, seluruh unit kerja di bawah Dinas Kehutanan tetap dioptimalkan dengan peralatan pemadaman yang ada demi memastikan pencegahan dan penanganan dini di lapangan.

“Walaupun kita hanya mempunyai peralatan sederhana, jangan dilihat dari peralatannya, tetapi tekad kami dan teman-teman di lapangan sangat antusias dalam menanggulangi kebakaran,” pungkas Susanto. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *