EkonomiSulteng

Geliat Investasi Sulteng Meroket, Serap 19 Ribu Tenaga Kerja

×

Geliat Investasi Sulteng Meroket, Serap 19 Ribu Tenaga Kerja

Sebarkan artikel ini
MOH RIFANI PAKAMUNDI | FOTO: NARATORIA

PALU – Derasnya arus investasi yang masuk ke Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) tidak hanya mencatatkan rekor nilai realisasi modal, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap perluasan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

Hingga Semester I Tahun 2026, geliat investasi daerah berhasil menyerap sebanyak 19.114 Tenaga Kerja Indonesia (TKI), melonjak pesat sebesar 22,29% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

​Peningkatan penyerapan tenaga kerja yang signifikan ini sejalan dengan melambungnya akumulasi realisasi investasi daerah yang menembus Rp 68,70 triliun, atau telah mencapai 73,17% dari target tahunan sebesar Rp 93,89 triliun yang ditetapkan pemerintah pusat.

​Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulawesi Tengah, Moh. Rifani Pakamundi, menegaskan bahwa penciptaan lapangan kerja dan kemitraan ekonomi lokal menjadi fokus utama pemerintah daerah dalam mengawal setiap modal yang masuk.

​”Investasi yang masuk ke Sulawesi Tengah harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat daerah. Terbukanya lapangan kerja bagi lebih dari 19 ribu tenaga kerja lokal hingga pertengahan tahun ini menjadi bukti bahwa iklim investasi kita produktif dan menggerakkan roda ekonomi rakyat,” tegas Moh. Rifani saat ditemui di Palu, Rabu (9/9/2026).

​Rifani menguraikan, penyerapan tenaga kerja terbanyak didorong oleh penyerapan di sektor industri pengolahan logam dasar dan hilirisasi nikel di kawasan industri strategis seperti Kabupaten Morowali dan Morowali Utara.

Selain itu, geliat investasi pada sektor pendukung seperti penyediaan listrik, gas, air, serta jasa konstruksi turut membuka ribuan peluang kerja baru di Kota Palu dan Kabupaten Banggai.

​Dari total nilai investasi Rp 68,70 triliun tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) memang memberikan kontribusi dominan mencapai 94,23% (sekitar Rp 64,73 triliun).

Namun demikian, keterlibatan pelaku usaha Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan UMKM terus diperkuat melalui penyediaan fasilitas perizinan berbasis risiko (OSS-RBA) serta kemitraan strategis.

​”Meskipun PMA mendominasi dari segi nilai modal, keberadaan usaha dalam negeri justru mendominasi dari sisi jumlah proyek. Ke depan, kami terus mendorong agar sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan juga semakin bergeliat, sehingga penyerapan tenaga kerja bisa semakin merata di seluruh kabupaten/kota se-Sulteng,” tambah Rifani.

​Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah optimistis kinerja investasi yang kokoh ini tidak hanya akan melampaui target akhir tahun 2026, tetapi juga secara konsisten menekan angka pengangguran serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Sulawesi Tengah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *