PALU – Kantor Perwakilan LPS III menyelenggarakan LPS Media Meet Up Sulawesi Tengah 2026 pada Senin (27/7/2026) sebagai upaya memperkuat sinergi dengan media dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat serta memperkuat kepercayaan publik terhadap industri perbankan.
Sebagaimana diketahui, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) merupakan lembaga independen yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
LPS memiliki fungsi menjamin simpanan nasabah perbankan, melaksanakan resolusi bank, turut aktif memelihara stabilitas sistem keuangan, serta akan menjalankan Program Penjaminan Polis mulai tahun 2028.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Perwakilan LPS III, Fuad Zaen, menyampaikan apresiasi kepada insan media di Sulawesi Tengah yang selama ini menjadi mitra strategis LPS dalam menyebarluaskan informasi kepada masyarakat.
Kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan dibangun melalui informasi yang akurat. Untuk itu, LPS memandang media sebagai mitra strategis dalam menyampaikan edukasi kepada masyarakat sekaligus menangkal penyebaran hoaks terkait sektor keuangan,” ujar Fuad.
Cakupan Penjaminan Simpanan di Sulawesi Tengah Melampaui Nasional
Dalam paparannya, Deputi Kepala Kantor Perwakilan LPS III, Prayitno Amigoro menyampaikan bahwa hingga 30 Juni 2026 sebanyak 5,90 juta rekening atau 99,98% rekening nasabah bank di Sulawesi Tengah dijamin penuh oleh LPS, lebih tinggi dibandingkan cakupan nasional sebesar 99,95%.
“LPS menjamin simpanan hingga Rp2 miliar per nasabah per bank. Namun, masyarakat juga perlu memperhatikan kriteria simpanan layak bayar atau Syarat 3T, yakni simpanan nasabah tercatat dalam pembukuan bank, tingkat bunga yang diterima nasabah tidak lebih besar dari Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) LPS, dan nasabah bukan merupakan pihak yang melakukan pelanggaran hukum yang menyebabkan kerugian bank,” jelas Prayitno.
Literasi Keuangan untuk Membangun Ketahanan Finansial
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat, kegiatan ini juga menghadirkan mini workshop bertajuk “Strategi Mengelola Keuangan di Kondisi Ekonomi Saat Ini” yang dibawakan oleh Hannah Asa Indonesia.
Founder sekaligus konsultan Hannah Asa Indonesia, Mardiyah Wahis, memberikan berbagai tips praktis mengenai pengelolaan keuangan secara bijak, menjaga kesehatan finansial, serta membangun ketahanan keuangan di tengah dinamika ekonomi.
“Kondisi ekonomi yang dinamis bukan alasan untuk berhenti menabung. Justru pada situasi seperti ini masyarakat perlu semakin disiplin mengatur arus kas, mempersiapkan dana darurat, dan memastikan tujuan keuangannya tetap berjalan,” pungkas Mardiyah.
Pesan tersebut sejalan dengan upaya LPS dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan. Selain menjamin simpanan nasabah dan turut aktif menjaga stabilitas system keuangan, LPS juga terus mendorong peningkatan literasi keuangan agar masyarakat semakin memahami pentingnya menabung di bank, mengelola keuangan secara sehat, serta memanfaatkan layanan perbankan secara bijak dan aman di era digital.
Melalui sinergi dengan media sebagai mitra strategis, LPS berharap informasi mengenai penjaminan simpanan serta pentingnya literasi keuangan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Dengan meningkatnya pemahaman publik terhadap fungsi LPS dan pengelolaan keuangan yang sehat, diharapkan kepercayaan terhadap industri perbankan terus terjaga sehingga mampu mendukung stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif serta berkelanjutan. (*)











