Pendidikan

Juara Monolog di Bali, Syafaat Mahasiswa Untad Bidik Tiket Peksiminas Jember

×

Juara Monolog di Bali, Syafaat Mahasiswa Untad Bidik Tiket Peksiminas Jember

Sebarkan artikel ini
JUARA MONOLOG - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Untad, Muhammad Syafaat, menyabet Juara II dalam Lomba Monolog Nasional yang digelar oleh Tegalmengkeb Artspace di Kabupaten Tabanan, Bali, pada Kamis (25/6/2026). FOTO: IST

PALU – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad), Muhammad Syafaat, kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah nasional.

Syafaat menyabet Juara II dalam Lomba Monolog Nasional yang digelar oleh Tegalmengkeb Artspace di Kabupaten Tabanan, Bali, pada Kamis (25/6/2026).

​Kompetisi bergengsi ini mempertemukan para pegiat seni teater berbakat dari berbagai penjuru tanah air. Mereka saling adu kemampuan akting, olah vokal, dan kedalaman penghayatan karakter di atas panggung monolog.

​Dalam ajang tersebut, Syafaat membawakan naskah legendaris “Alimin/Aeng” karya maestro sastra Indonesia, Putu Wijaya. Penampilannya sukses memukau dewan juri berkat karakterisasi yang kuat serta penyampaian pesan sosial yang begitu pekat.

​Syafaat mengungkapkan, naskah “Alimin/Aeng” memotret pergulatan batin seorang narapidana yang didera ketidakpastian dalam menunggu eksekusi mati. Melalui karya ini, Putu Wijaya melayangkan kritik tajam terhadap ketidakpastian hukum dan sisi kemanusiaan yang sering kali terabaikan.

“Pesan utama dari naskah itu mempertanyakan mengapa hukum kita memakai ‘jam karet’. Sebagai bentuk protes terhadap sistem hukum, tokoh tersebut akhirnya memilih mengakhiri hidupnya sendiri ketimbang terus digantung oleh ketidakpastian jadwal eksekusi mati,” ujar Syafaat.

​Keberhasilan Syafaat di Pulau Dewata ini tidak lepas dari dukungan penuh pihak universitas. Pimpinan FKIP Untad memfasilitasi seluruh akomodasi dan pembiayaan perjalanan selama kompetisi berlangsung.

Prestasi nasional ini juga menjadi kelanjutan dari tren positif Syafaat, setelah sebelumnya meraih Juara I pada ajang seni mahasiswa internal Untad tahun 2025 dengan naskah yang sama.

​Kendati berhasil membawa pulang piala, Syafaat menaruh harapan besar pada regenerasi seni peran di kampusnya. Menurutnya, monolog adalah salah satu cabang seni pertunjukan dengan tingkat kesulitan tinggi karena seorang aktor harus menghidupkan berbagai karakter dan emosi seorang diri.

​”Monolog membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan kemampuan interpretasi yang kuat. Saya berharap ke depan semakin banyak rekan mahasiswa yang tertarik mendalami seni ini agar regenerasi pelaku teater di Untad terus berjalan,” tuturnya.

​Langkah Syafaat tidak berhenti di sini. Usai berjaya di Bali, ia langsung tancap gas mempersiapkan diri menghadapi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida).

Ajang tersebut menjadi batu loncatan penting demi mengamankan tiket menuju Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) yang akan digelar di Jember, Jawa Timur.

​”Semoga saya bisa kembali memberikan hasil terbaik, serta mendapat kepercayaan untuk mewakili Sulawesi Tengah dan Universitas Tadulako di ajang Peksiminas nanti,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *